Category Archives: Tetty Paruntu & Kepemimpinan

Tetty Paruntu: PANTAS Prioritaskan Putra-Putri Terbaik Minsel

Tetty Paruntu: Putra-putri terbaik Minsel akan menjadi penggerak utama pembangunan.

Proses kompetisi politik seperti pemilukada memang selalu mendatangkan “konflik” atau friksi dalam masyarakat maupun elit politik. Maka, situasi itu menjadi tantangan tersendiri bagi setiap kandidat untuk meresponnya secara positif dan konstruktif. Dan, suatu kali muncul diskusi antara Christiany Eugenia Tetty Paruntu dengan sejumlah simpatisannya. Pertanyaan yang muncul berbunyi, “Mungkin saja di luar tim atau di luar simpatisan Anda, ada banyak pakar atau orang-orang bertalenta. Karena proses pilkada, mereka terpaksa ‘berseberangan’. Padahal, mungkin talenta mereka sangat dibutuhkan. Bagaimana sikap Anda bila menang dan jadi bupati nanti?”

Mendapati pertanyaan penting semacam itu, Tetty Paruntu yang berpasangan dengan Sonny Tandayu (PANTAS No.5) menegaskan kembali komitmennya untuk berdiri di atas semua golongan. “Siapa pun mereka, apa pun golongannya, saya akan tetap mengasihi dan mengayomi mereka. Tekad saya adalah membangun pemerintahan yang sifatnya melayani, yang demokratis, bersih, dan berwibawa,” tegas Tetty yang baru saja meluncurkan Tabloid PANTAS.

“Saya ingin menjadi pemimpin yang takut akan Tuhan. Saya ingin memberikan yang terbaik untuk rakyat dan menyejahterakan Minsel dalam segala bidang. Jika kelak Tuhan berkehendak saya menjadi Bupati, saya akan menjadi pemimpin untuk semua lapisan masyarakat. Saya akan mengakomodasi kepentingan rakyat banyak,” lanjut Tetty, satu-satunya kandidat bupati Minsel yang ikut menandatangani ‘Rekomendasi Akhir Tahun 2009’, yang ditandatangani oleh 15 tokoh gereja dan tokoh masyarakat Sulawesi Utara tersebut.

Secara lebih spesifik, Tetty juga mengisyaraktan bahwa pemerintahannya nanti akan memprioritaskan merekrut dan memanfaatkan SDM yang sudah ada di Minsel. Itu berarti, putra-putri terbaik Minsel adalah prioritas untuk menjadi motor penggerak pembangunan. Dan, hal ini juga seturut dengan prioritas program peningkatan pendidikan dan kualitas SDM Minsel.

“Apabila mereka masih dianggap lemah, kita akan sediakan pendidikan dan pelatihan. Jika dirasa masih belum memenuhi kebutuhan, barulah dipertimbangkan untuk merekrut tenaga dari luar Minsel. Itulah esensi adanya otonomi daerah. PANTAS punya target untuk membangun Minsel dengan lebih cepat dan tepat. Jadi, mari kita sama-sama bersinergi membangun Minsel, tanah yang kita cintai, supaya menjadi daerah yang diberkati dan bisa dibanggakan,” ungkap Tetty yang selalu menempati posisi teratas di hampir semua survei pemilukada Minsel.[]

Tetty Paruntu: PANTAS Membawa Perubahan dan Kebangkitan untuk Minsel!

Tetty Paruntu selalu berbaur dan menyatu dalam rasa warga Minahasa Selatan yang ingin mengalami perubahan dan percepatan pembangunan.

Salah satu kritik yang paling sering dilontarkan terhadap Christiany Eugenia Tetty Paruntu adalah asumsi bahwa calon bupati termuda dalam sejarah pilkada Minsel ini tidak menguasai seluk-beluk birokrasi pemerintahan. Kritik ini memang sengaja diwacanakan untuk menaikkan positioning bakal calon bupati yang berlatar belakang birokrasi. Sementara, Tetty Paruntu sendiri berlatar belakang pengusaha sukses sekaligus politisi muda potensial dari Partai Golkar.

Menanggapi kritikan semacam ini, Tetty Paruntu mengakui bahwa dirinya juga memiliki kekurangan. “Nobody’s perfect… Saya juga punya kekurangan, dan itu tidak mudah diatasi dalam waktu singkat. Itu sebabnya, saya memilih pasangan Sonny Frans Tandayu, seorang birokrat andal dan yang terbaik di Minahasa Selatan,” tegas Tetty yang saat ini menjabat Presiden Direktur PT Chandra Ekakarya Pratama di Jakarta, sekaligus pemilik CEP Group dan Partim Group ini.

Namun begitu, Tetty meminta masyarakat calon pemilih melihat visi dan misinya dalam pencalonan bupati ini, termasuk program-program yang diusung, berikut berbagai kesiapan lain sebagai seorang pemimpin. Dari sisi visi, misi, dan programlah seorang pemimpin bisa dilihat komitmen dan kesiapannya dalam memerintah. Tetty juga menegaskan kembali pengertian leader dan leadership dalam organisasi apa pun yang bersifat universal.

Leader itu fungsinya to lead, memimpin orang-orang terampil dan terbaik di bidangnya untuk mencapai tujuan bersama. Seorang pemimpin itu fungsinya menginspirasi, memotivasi, dan membuat kebijakan bisa dijalankan agar memberikan hasil sesuai rencana atau target yang telah ditetapkan. Pemimpin itu tidak mengerjakan detail, tetapi mengambil keputusan berdasarkan big picture yang dikuasainya,” jelas putri sulung politisi senior Jennie J. Tumbuan (mantan Ketua DPRD Minsel) dan Prof. Ir. Jopie Paruntu Ph.D (mantan Rektor Unsrat dan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Sulut) ini.

“Sementara leadership adalah soal wawasan tentang kepemimpinan dan bagaimana seorang pemimpin berperilaku. Saya datang dengan visi dan misi pelayanan, bukan untuk dilayani. Saya ingin mengubah paradigma kepemimpinan dan pemerintahan yang dilayani menjadi kepemimpinan dan pemerintahan yang melayani masyarakat. Dan, untuk mencapai itu semua, dalam pemerintahan nanti saya akan dibantu oleh orang-orang yang mempunyai mentalitas yang dapat diandalkan. Mereka adalah orang-orang Minsel yang cerdas, terampil, rajin, bertanggung jawab, serta bisa bekerja cepat dan tepat,” tegas Tetty Paruntu sembari merujuk Sonny Tandayu sebagai yang terbaik untuk mendampinginya menjalankan pemerintahan di Minsel.

Tetty yang berdasarkan survei FPC menduduki posisi teratas ini juga mengingatkan, bahwa salah satu yang terpenting dalam pemerintahan adalah team work yang kompak, satu komitmen, loyal, dan saling mengisi. Kekurangannya menyangkut tetek-bengek kebirokrasian otomatis akan diisi oleh kepiawaian dan pengalaman Sonny Tandayu sebagai birokrat karier di Pemkab Minsel.

“Dan kalau ditanya, di antara semua calon bupati dan wakil bupati, birokrat mana yang paling memahami Minsel? Bukankah jawabannya Sonny Tandayu? Yang di sepanjang karier birokrasinya selalu bergelut dengan berbagai persoalan di Minsel…? Bukan calon birokrat dari luar Minsel, kan?” ungkap Tetty Paruntu balik bertanya.

Sebaliknya, kekurangan-kekurangan yang mungkin melekat dalam birokrasi pemerintahan kemungkinan bisa dilengkapi dengan leadership dan kemampuan-kemampuan manajerial dari organisasi modern semacam perusahaan. “Saya pengusaha, orang bisnis, setiap hari bergelut dengan yang namanya peluang, investasi, kompetisi, performance, prinsip-prinsip efisiensi dan efektivitas. Saya berpacu dengan kecepatan bertindak untuk meraih progres dan target yang ditetapkan. Kami tidak bisa berpikir dan bertindak lambat karena bisa kehilangan peluang. Dan, saya dibantu Sonny Tandayu akan membuat perubahan-perubahan yang cepat dan tepat untuk Minsel, untuk kehidupan yang lebih baik,” tegas Tetty Paruntu.[]

Tetty Paruntu: Saya Datang untuk Melayani, Bukan untuk Dilayani

Tetty Paruntu: "Dengan hati penuh kasih serta hikmat, akal budi, pengetahuan, kebijaksanaan, dan pengertian, saya akan membangun Minsel."

Suatu kali August Parengkuan, mantan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas yang kini menjadi Komisaris Kompas-Gramedia Group, berkomentar di wall Facebook Christiany Eugenia Tetty Paruntu, “Tetty, kiapa voor Minsel. Langsung jo voor Sulut kwa…?!” Sementara, seorang facebooker bernama Tony L. Jawir menimpali dengan akrabnya, “Lagi pemanasan dulu kali, Om hehehe…. Tahun 2010 bupati, 2015 gubenur Sulut, 2019 capres.”

Mendapati komentar-komentar penuh semangat itu, Tetty Paruntu yang di pilkada Minsel berpasangan dengan Sonny Frans Tandayu (PANTAS) menjawab sembari memohon dukungan doa, “Terima kasih sarannya. Tapi saya harus melakukan sesuatu dahulu untuk tanah leluhur saya. Hasil yang baik akan membawa kita kepada kesuksesan selanjutnya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Doakan, ya….”

Pertanyaan atau komentar August Parengkuan di atas menandakan, tokoh pers nasional ini melihat potensi kepemimpinan yang sangat besar dalam diri Tetty Paruntu. Yang menarik, mengapa pengusaha sukses pemilik CEP Group dan Partim Group ini memilih mencalonkan diri menjadi bupati?

Persis seperti pertanyaan Tony L. Jawir di fans pageTETTY PARUNTU FOR MINSEL 2010 (SATU PUTARAN)” yang berbunyi, “Setiap hari Anda berada di kantor yang licin dan bersih, wangi dan terang-benderang. Anda juga ada di sekeliling orang-orang hebat berpangkat. Lalu, apa yang memotivasi Anda sehingga mau terjun ke tanah Minsel yang berlumpur, gelap, dan berkeringat bersama warga di sana?”

Tetty yang dijuluki Srikandi Minsel ini menyadari bahwa bagi sebagian orang dirinya dianggap telah sukses di dunia bisnis dan mendapatkan hampir semua yang diimpikannya. Akan tetapi, Tetty yang aktif di kegiatan pelayanan rohani ini memandang bahwa tanggung jawabnya sungguh besar untuk memajukan daerah Minsel, tanah leluhurnya.

“Kasih Yesus sungguh besar di dalam hidup saya. Itulah yang memotivasi saya untuk kembali membangun tanah leluhur saya yang sangat saya cintai ini. Banyak saudara kita, warga Minsel yang berharap dan sangat membutuhkan seorang pemimpin. Pemimpin seperti apa? Seorang pemimpin yang mempunyai hati untuk membangun dan membesarkan Minsel,” tutur putri pasangan Jennie J. Tumbuan (Ketua DPD Golkar Minsel) dan Profesor Jopie Paruntu PhD (mantan Rektor Unsrat) ini.

“Saya datang untuk melayani, bukan untuk dilayani. Tujuan saya adalah ingin mengubah paradigma pemerintah dari penguasa menjadi pelayan masyarakat,” tegas fungsionaris DPP Partai Golkar dan Wakil Bendahara I Partai Golkar Sulut ini.

“Dan dengan hati penuh kasih serta hikmat, akal budi, pengetahuan, kebijaksanaan, dan pengertian, saya akan membangun Minsel. Siapa pun mereka, apa pun golongannya, saya akan tetap mengasihi dan mengayomi mereka, serta membangun sebuah pemerintahan yang demokratis, bersih, dan berwibawa,” pungkas Tetty Paruntu sembari mengucapkan selamat memperingati Hari Kartini.[]

Tetty Paruntu: Pemimpin Harus Mapan dan Mandiri Finansial

Tetty Paruntu dalam sebuah acara perusahaannya di Perancis

Dalam sebuah diskusi di grup Facebook “Tetty Paruntu Fans Club”, seorang member bernama Andi Hasanudin melempar wacana pentingnya warga Minahasa Selatan (Minsel) memilih calon bupati yang mapan kehidupan ekonominya. “Pilih yang cerdas, religius. Cerdas intelektual dan cerdas emosional. Dan, tentu harus mapan juga ekonominya agar kesejahteraan rakyat tidak akan terabaikan, hanya karena si bupati sibuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Pilih Christiany Eugenia Tetty Paruntu!” tegas Andi.

“Ingat! Banyak orang sangat ambisi untuk menjadi kepala daerah hanya karena ingin memperkaya diri sendiri. Saat ini sudah sangat banyak bukti. Pilih saja yang sudah mapan ekonominya,” tambah Andi yang acapkali melemparkan topik-topik diskusi menarik di wall Facebook Tetty Paruntu.

Wacana yang digulirkan Andi tersebut seolah hendak menangkis wacana lain dalam konteks pilkada Minsel yang menyatakan bahwa sebaiknya pemimpin tidak dipilih karena uangnya, tetapi karena kemampuan, pengalaman, dan bukti perbuatannya. Soal pengalaman, kemampuan, dan track record memang tak terbantahkan bahwa itu mutlak diperlukan. Namun, soal wacana “jangan pilih karena uang” itu, diakui atau tidak, seolah diarahkan pada upaya pendelegitimasian kiprah Tetty Paruntu yang berlatar belakang pengusaha serta mandiri secara finansial.

Tetty Paruntu, yang sudah resmi dicalonkan Partai Golkar di pilkada Minsel, menekankan pentingnya kemandirian finansial bagi seseorang yang ingin menjadi politisi tangguh. Terlebih lagi kalau politisi tersebut berniat maju sebagai kandidat kepala daerah. Semua pihak pastilah sudah mafum bahwa rangkaian kegiatan menuju pemilihan kepala daerah bukan saja menguras tenaga fisik dan pikiran, tetapi juga membutuhkan biaya yang sangat besar. Bahkan, sebuah partai besar di Sulut pun pernah mewacanakan, untuk bisa diusung sebagai calon bupati/walikota/gubernur, seorang kandidat minimal harus memiliki dana taktis 6 hingga 25 miliar rupiah.

Tetapi, mengapa dalam konteks pemilihan kepala daerah soal kemandirian finansial itu sangat penting di mata Tetty? “Kalau tidak mandiri finansial, dikhawatirkan akan terjadi ‘penggadaian’ kepentingan politik,” kata Tetty, putri Prof. Dr. Jopie Paruntu (mantan rektor Unsrat) dan Dra. Jennie J. Tumbuan (Ketua DPD PG Minsel) ini. Tetty memberi ilustrasi misalnya seorang kandidat—demi memenuhi kebutuhan operasional pencalonannya—kemudian meminta dukungan finansial atau sponsor dari pihak-pihak lain dengan menjanjikan; kalau nanti yang bersangkutan terpilih sebagai kepala daerah, pihak sponsorlah yang akan mendapatkan proyek-proyek pemerintah yang dibiayai dengan APBD.

“Dalam konteks di atas bisa kita lihat, bahwa calon-calon yang secara finansial tidak mapan, besar peluangnya secara leadership mereka juga tidak mapan. Kalau mereka terpilih, mereka ini akan lebih berpotensi untuk menyelewengkan dana APBD. Dibandingkan dengan calon yang secara finansial sudah mapan atau tidak membutuhkan dana sponsor dengan imbalan proyek APBD, misalnya!” tegas Tetty Paruntu yang juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan ini.

Namun, Tetty juga memahami bahwa ketidakmapanan maupun ketidakmandirian finansial tidak serta merta menjustifikasi bahwa sang calon pemimpin tersebut sudah pasti akan menyalahgunakan wewenangnya dalam pengelolaan keuangan suatu daerah. “Tidak selalu seperti itu, tetapi di sini kita bicara soal kemungkinan dan kecenderungan dalam politik. Sebab, pemilihan kepala daerah membutuhkan dukungan dana yang sangat besar. Dan, tidak jarang ada penilaian masyarakat tentang adanya pejabat-pejabat yang hanya berusaha memperkaya diri melalui jabatannya,” tegas Tetty.

Tetty yang menyelesaikan studinya di Inggris ini menambahkan, di negara-negara yang maju secara demokrasi kelembagaan dan kepemimpinan, masyarakatnya pun terkondisikan untuk lebih mengutamakan seorang calon pemimpin yang sudah mapan secara finansial. Contohnya di benua Amerika adalah USA. Kalau di benua Asia, contoh utamanya adalah Jepang atau Singapura.

“Kemapanan atau kemandirian finansial itu penting bagi masyarakat negara maju tersebut. Paling tidak hal itu akan memberikan jaminan atau memberikan rasa kepercayaan kepada masyarakat. Bahwa, anggaran pendapatan atau dana yang peruntukannya untuk kesejahteraan rakyat dan pembangunan suatu daerah tidak akan disalahfungsikan oleh pemimpin tersebut. Bisa kita bayangkan, bilamana seseorang yang akan dipilih sebagai pemimpin itu tidak mapan secara ekonomi, dan juga tidak mandiri secara finansial…,” jelas Tetty panjang lebar.

Itulah salah satu pembelajaran politik modern yang diusung Tetty Paruntu, calon bupati Minsel termuda saat ini. Tetty jelas mendukung wacana kemapanan ekonomi dan kemandirian finansial dalam kandidasi kepala daerah demi meminimalisir efek-efek negatif dari praktik ‘penggadaian’ kepentingan politik. Secara tersirat ini juga menandakan motivasi Tetty Paruntu untuk membawa Minsel dalam kemajuan dan kemandirian pembangunan ekonomi, agar kabupaten Minsel yang masih muda usianya ini mampu berkiprah maksimal di tingkat propinsi, nasional, bahkan internasional. Semoga Tetty Paruntu menang pilkada dan cita-cita besar ini bisa diwujudkan. Amin.[]

Tetty Paruntu, Sosok Pemimpin yang Melayani

Tetty Paruntu as the servant of God: to give, to save, to send

Tetty Paruntu as the servant of God: to give, to save, and to send

Tetty Paruntu dikenal sebagai pribadi yang ramah, hangat, simpatik, serta tidak pilih-pilih dalam bergaul. Artinya, Tetty memang suka bergaul dengan siapa saja tanpa memandang latar belakang seseorang. Nah, suatu kali, salah seorang sahabatnya berbagi kabar gembira kepada Tetty. Dengan riangnya si sahabat ini bertutur, “Mbak, aku lagi happy, nih…!”

“Oh ya, bagi-bagi dong happy-nya…?” pinta Tetty.

“Kemarin aku deal sama klien untuk sebuah project. Lumayan, hasilnya bisa bikin aku enggak perlu ngotot cari klien lain barang setahun hahaha….” cerita si sahabat.

“Oh ya, asyik banget… Kalau begitu aku turut senang,” komentar Tetty. “Tuhan baik, ya? Kamu diberkati terus… Jangan lupa perpuluhannya dikembalikan kepada-Nya,” pesan Tetty, yang suka menyebut dirinya sebagai the servant of God ini.

Pesan Tetty kepada sahabatnya itu sederhana belaka. Namun bagi Tetty, pesan untuk mengembalikan sebagian kecil dari rezeki kita kepada institusi gereja atau lembaga pelayanan Tuhan sangat prinsip dan doktrinal sifatnya. Mengapa? Karena bagi Tetty, ada nilai-nilai anutan yang mendalam di sana, yaitu ajakan untuk selalu melayani dan berbagi kepada sesama sebagai perwujudan nilai kasih yang diajarkan oleh Yesus Kristus.

Sebagai seorang pengusaha sukses, boleh dibilang Tetty berlimpah dengan berkat materi. Namun, sesuai dengan keyakinannya, Tetty tidak semata membawa kembali berkat finansialnya itu hanya untuk terus membesarkan perusahaan-perusahaan yang dipimpinnya. Tetty membawa sebagian dari berkatnya itu untuk membantu kegiatan-kegiatan pelayanan sosial dan keagamaan, baik yang dikelola oleh Eugenia Foundation maupun Eugenia Ministry.

Dalam kehidupan sehari-hari, Tetty dan keluarganya juga dikenal sebagai orang-orang yang dermawan serta suka membantu sesama. Kesediaan Tetty dan keluarganya untuk membantu sesama yang kekurangan sudah diketahui oleh banyak warga Minsel. Lihatlah dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, atau setiap kegiatan yang melibatkan banyak warga Minsel, selalu saja di sana ada aktivitas untuk berbagi berkat. Tak heran bila citra kedermawanan Tetty dan keluarganya begitu melekat di hati warga Minsel.

“Berkat yang saya terima saya kembalikan untuk kemuliaan nama Tuhan,” tegas Tetty. “Sebab, misi yang Tuhan berikan kepada saya adalah to give (memberi), to save (menyelamatkan), dan to send (mengutus). Doakan saya selalu agar tetap ada dalam pelayanan dan misi ini,” kata Tetty.

“Ibu Tetty adalah sosok pemimpin yang melayani,” simpul salah seorang anggota Tim Sukses Tetty Paruntu. Dan memang benar, sosok pemimpin ideal seperti inilah yang sesungguhnya dibutuhkan oleh warga Minsel saat ini. Semoga saja doa warga Minsel untuk mendapatkan sosok pemimpin yang melayani segera dikabulkan Tuhan. Amin![]