Menang Telak di 128 Desa – PANTAS Tak Terkejar

 

Warga berduyun-duyun memberikan ucapan selamat kepada Tetty Paruntu yang menang telak di 16 dari 17 kecamatan di Minsel

 

AMURANG-[Manado Post, Sabtu, 16 Oktober 2010 ] Pasangan Tetty Paruntu – Sonny Tandayu (PanTas) makin tak terkejar pada putaran dua pemilihan kepala daerah (Pilkada) Minahasa Selatan (Minsel). Hasil perolehan suara sementara yang dirangkum Koran ini dari 256 desa yang tersebar di 17 kecamatan, PanTas berhasil menang di 128 desa (lihat grafis).

Lawannya Asiano Gamy Kawatu SE MSi – Felly Estelita Runtuwene SE (AKG-FER) hanya menang di 28 desa. Atau dari 17 kecamatan, PanTas menang di 16 kecamatan. AKG-FER hanya menang di Kecamatan Tareran.

Di basisnya PanTas seperti di Kecamatan Amurang Timur, markas Ketua Tim Kampanye Robby Sangkoy, PanTas unggul dengan perolehan suara 2.900 suara dibandingkan AGK-FER hanya 2.490 suara. Padahal, di markas ini pada putaran pertama PanTas kalah.

Kemenangan di markas Farry Liwe, yang sudah beralih ke PanTas, juga cukup signifikan. PanTas meraih 4.623 suara dan AGK-FER hanya 4.438 suara. Hal yang sama juga di markasnya Ketua DPD PG Minsel JJ Tumbuan di Kecamatan Tenga, PanTas meraih 6.030 suara dan AGK-FER 4.436 suara. Begitu juga di Sinonsayang, PanTas menang telak dengan memperoleh 4.698 suara sementara AGK-FER hanya 3.969 suara. Sekadar referensi, pada putaran pertama, Kecamatan Tenga dan Sinonsayang dimenangkan pasangan dari PDIP (Farry Liwe-Frangky Wongkar).

Di basis John Sumual, Ketua Partai Demokrat, yang kali ini mendukung PanTas di Kecamatan Suluun Tareran, juga meraih kemenangan walaupun tipis. PanTas menguasai 2.470 suara dan AGK-FER meraih 2.139 suara.

Namun Ketua KPU Minsel Ir Yurnie Sendow menyatakan, hasil perolehan suara yang ada saat ini belum bisa dijadikan pegangan resmi. Menurutnya, hasil tersebut hanya berupa bahan pembanding di lapangan. “Sesuai aturan, kami harus menggunakan hasil pleno rekapitulasi perolehan suara dari KPU untuk menetapkan pemenang. Jadi sabar saja kalau sudah diplenokan,” ujarnya. “Rencananya pleno penetapan akan digelar Selasa pekan depan,” ujarnya.

Banyak kalangan memuji kemenangan PanTas. Karena dianggap fenomenal setelah membalikkan keadaan dari kalah di putaran pertama dan menang di putaran kedua. Apalagi kemenangannya di luar dugaan banyak orang.

Ketua DPR Sulut dari Partai Golkar Meiva Salindeho-Lintang STh bahkan menilai, Tetty Paruntu menang dengan terhormat. “Tetty kader terbaik Partai Golkar. Ia menyelamatkan muka Golkar dari Pilkada serentak di tujuh kabupaten kota plus provinsi. Tetty kader Golkar yang pertama meraih kemenangan. Apalagi menang dengan telak dan mulus,” ujar Ny Salindeho.

Pujian yang sama juga disampaikan mantan anggota DPR-RI Partai Golkar Berny Tamara. “Ketulusan, kerendahan hati, keramahtamahan, kecerdasan, dan ketegaran hati Tetty Paruntu membuat ia sangat dicintai rakyat Minsel. Hinaan dan cercaan yang dihembuskan para pendukung lawannya, justru membuat Tetty makin disayangi,” ujar Tamara yang juga tokoh masyarakat Minsel.

BANWASLU

Sementara itu anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Pusat Bambang Eka Cahya Widodo, kepada koran ini mengakui pelaksanaan Pilkada putaran kedua di Minsel ada kekurangan. “Kenyataannya memang demikian,” ujar Bambang, ketika disinggung soal sorotan terhadap Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Minsel yang tidak melakukan pengawasan.

Malah Bambang mengakui pekerjaan Panwaslu Minsel tidak maksimal mengawas. Dari laporan juga, Petugas Pengawas Lapangan (PPL) tidak melaksanakan tugas dengan optimal. “Waktu pelaksanaan kebetulan saya ada di sana, jadi mengetahui langsung, karena anggaran,” tuturnya lagi.

Disinggung soal salah satu penyebab Panwaslu hingga PPL tidak bertugas tugas betul karena adanya dualisme kepempimpinan, Bambang juga membenarkan. “Saya belum bisa putuskan apakah sah atau tidak, nanti ada keputusan Bawaslu,” jelasnya. Antara Maxi Egeten dengan Elko Mamesah saling klaim sebagai Ketua Panwaslu Minsel. Sayangnya juga, salah satu anggota Panwaslu, Terry Frans, sampai saat ini (tadi malam, red) tidak pernah muncul.

Masalah di tubuh Panwaslu ini membuat kemenangan PanTas tidak diterima tim pemenangan AGK-FER. “Kami akan layangkan gugatan ke MK (Mahkamah Konstitusi, red). Ini keputusan kami,” ujar Ketua Tim Pemenangan AGK-FER Drs Jopi Mongkaren, kemarin. Menurutnya, fungsi Panwas sebagai petugas pengawas tidak jalan. Menurutnya, di semua TPS dan desa, bahkan kecamatan, tidak terlihat pengawasan Panwas. Absennya ‘polisi’ pilbup itu membuat terjadinya money politics. “Pilbup 14 Oktober ibarat main bola yang tidak ada wasit. Makanya money politics terjadi di mana-mana,” tuturnya.

Namun warga meminta AGK-FER menerima saja hasil pemungutan suara di Minsel. Karena jika dilanjutkan ke MK, yang akan jadi korban nanti adalah rakyat Minsel sendiri. Dikarenakan, pembahasan rancangan anggaran pendapatan dan belanja daerah (RAPBD) 2011 dipastikan akan tertunda. Sehingga pembangunan di Minsel otomatis tertunda.

“Jadi kalau pak Gammy dan ibu Felly punya kerinduan untuk memajukan dan mensejahterakan rakyat Minsel, tolong jangan perhambat pembahasan RAPBD 2011 Minsel supaya pembangunan tidak terhambat. Karena kami dengar saat kampanye pak Gamy waktu lalu, pak Gamy tidak mengejar kekuasaan. Pak Gamy hanya ingin memajukan dan mensejahterakan rakyat Minsel. Sehingga siapapun yang menang, pak Gamy akan tetap membangun Minsel,” ujar Didy Elias, warga Amurang.

Selain itu, jika berlanjut ke MK, bukan sedikit biaya yang akan dikeluarkan keduabelah pihak untuk membayar macam-macam di pusat dalam rangka penyelesaian gugatan. “Berurusan ke MK itu bukan gratis. Kalau urusannya berminggu-minggu, hitung saja saksi dan macam-macam yang harus kita tanggung selama di Jakarta. Mending duitnya dibagi buat warga miskin di Minsel daripada dihabiskan di MK,” ujar Didy.

Warga Amurang lainnya juga menilai, kalau mau bicara curang, tim sukses kedua pasangan melakukan kecurangan. Baik bagi-bagi duit maupun bagi bagi beras. “Belum lagi ada calon yang diduga kuat dibeck up penguasa. Baik penguasa di Minsel maupun di Sulut. Sehingga kami duga juga ada pengerahan atau intimidasi terhadap guru-guru atau PNS,” ujar Herry L, juga warga Amurang. (vip/irz/myw)

Dikutip dari: Manado Post 18 Oktober 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s