Sekerat Roti di Malam Natal

Alkisah, pada suatu malam seluruh warga di sebuah kota kecil tengah menyelenggarakan misa Natal di gereja. Malam itu salju turun diiringi angin yang bertiup kencang dan hawa dinginnya membekukan tulang. Warga kota kecil itu seperti buru-buru masuk ke dalam gereja yang dihangatkan oleh perapian serta ratusan lilin hiasan.

Persis di sebelah kiri depan gerbang gereja itu, duduk seorang pengemis perempuan kecil dengan mantel compang-camping dan bau yang menyengat. Pengemis kecil itu baru terlihat ada di kota ini sejak beberapa hari yang lalu. Setiap kali ada warga memasuki gerbang gereja, pengemis kecil ini berdiri sambil menggerakkan tangannya ke arah mulut. Pengemis kecil ini memang bisu dan tuli. Dengan tanda itu, ia berharap warga berbelas kasihan memberinya sesuatu untuk dimakan.

Kemudian lewatlah beberapa orang di hadapan pengemis kecil itu. Namun, mereka semua bergegas masuk ke dalam gereja tanpa menoleh sedikit pun. Begitu juga dengan banyak warga lain yang lewat berikutnya, ada yang menoleh dan berhenti sejenak, namun semua tidak berbuat apa-apa dan langsung masuk gereja. Beberapa puluh orang sudah lewat, namun tak satu pun yang menaruh kasihan kepada si pengemis kecil ini.

Lalu, muncullah salah satu keluarga kaya di kota kecil itu, sepasang suami istri dan seorang anak perempuan berusia belasan tahun. Mereka datang dengan mobil mewah nan antik dan tampak mengenakan pakaian terbaik untuk merayakan Natal. Ketika melewati si pengemis kecil yang berdiri saambil memberi tanda meminta sesuatu untuk dimakan, sepasang suami istri kaya itu pun tak melihatnya. Tetapi, anak perempuan mereka melihat si pengemis dan menarik tangan orang tuanya untuk berhenti.

“Mama, ada pengemis… Apakah kita bisa memberinya sesuatu?” tanya si anak perempuan.

Perempuan kaya itu berhenti dan menoleh sejenak kepada si pengemis kecil. Lalu, ia berkata pada anak perempuannya, “Kita hanya membawa uang persembahan untuk gereja. Lain kali kita beri dia.” Usai berkata begitu, perempuan kaya itu menarik tangan anaknya dan bersama suaminya langsung memasuki gereja. Si anak perempuan itu hanya bisa memandang iba kepada si pengemis kecil.

Tak berapa lama, datang dengan tergopoh-gopoh seorang laki-laki tua yang dari pakaiannya tampak dia adalah salah satu hamba Tuhan di gereja tersebut. Demi melihat pengemis kecil itu, laki-laki tua yang hamba Tuhan tersebut menghentikan langkahnya dan berkata, “Nak, kenapa kamu berdiri di situ? Kenapa tidak masuk ke gereja?”

Si pengemis kecil itu hanya merespon dengan menggerakkan tangannya ke arah mulutnya. Melihat itu, laki-laki tua ini seperti tidak sabar dan mencoba mendekati si pengemis kecil. Ia bermaksud menarik tangan anak itu untuk diajak masuk ke gereja. Tetapi setelah selangkah lebih dekat, barulah laki-laki tua hamba Tuhan ini mencium bau yang tidak sedap dari pakaian si pengemis kecil. Spontan laki-laki tua itu terhenti dan berkata, “Oh tidak, kamu tidak usah masuk… Tunggu saja setelah misa kamu akan diberi roti…” Hamba Tuhan itu segera bergegas masuk ke dalam gereja.

Rupanya, laki-laki tua tadi merupakan orang terakhir yang memasuki gereja. Si pengemis kecil itu pun mulai kelelahan setelah duduk dan berdiri sekian lama. Akhirnya, ia terduduk lemas, lalu menekuk tubuhnya untuk menahan lapar dan dingin yang membekukan seluruh tubuhnya. Kepalanya menunduk dan tudung yang dipakainya sudah memutih semua tertutup salju. Sayup-sayup lagu-lagu Natal terdengar mengalun begitu indahnya dari dalam gereja.

Dalam kebekuannya, si pengemis kecil itu merasakan ada setitik air menetes dari matanya, dan sejenak menghangatkan pipinya yang sedingin es. Tiba-tiba ia tersentak oleh bunyi seperti hentakan pintu dibuka yang dilanjutkan dengan suara gaduh di depan gereja. Gubraaakkkk…. seseorang laki-laki seperti baru saja dilempar keluar dari gereja diiringi dengan suara kemarahan, “Pencuri tidak diterima di Rumah Tuhan…! Pergi sana!”

Rupanya, laki-laki yang diteriaki pencuri dan dilempar keluar gereja itu, jatuh meluncur di atas salju dan baru berhenti persis di sebelah kiri si pengemis kecil. Laki-laki itu mencoba bangun sambil menggerutu saking kesalnya. Namun, gerutuannya terhenti begitu ia menoleh ke wajah pucat pengemis kecil yang menggigil di dekatnya. Hanya beberapa saat saja mereka saling berpandangan di tengah dinginnya malam Natal.

“Aku tahu apa yang kau inginkan….” kata laki-laki itu sembari merogoh saku dalam mantelnya. “Aku mencuri karena lapar. Tapi makanlah roti ini…. kamu lebih lapar daripada aku….”

Si pengemis kecil tampak bahagia sekali menerima roti tersebut. Setelah dia terima, roti itu dibaginya menjadi dua, lalu yang separuhnya dia kembalikan ke laki-laki itu. Kini, dengan perasaan suka cita, mereka duduk menyandar di gerbang gereja menikmati sekerat roti.

Namun di malam Natal itu, mereka bisa menikmati sekerat roti yang seolah tidak pernah bisa mereka habiskan. Mereka merasakan Natal juga milik mereka dan membawa kedamaian untuk semua orang tanpa ada kecualinya. Karena memang kasih itu tak berbatas dan untuk semuanya. Amin.

Pesan Natal Tetty Paruntu: “Tuhan itu adil… Dia Allah yang peduli kepada orang-orang yang menjadi biji mata-Nya. Sebab, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Dan, saya berharap Natal ini membawa kedamaian di hati kita semua, sebab ada suka cita tersendiri. Makna Natal adalah Yesus Kristus telah lahir ke dunia dan memberikan jaminan Roh Kudus ada bersama kita. Immanuel... Allah menyertai kita.

2 responses to “Sekerat Roti di Malam Natal

  1. Natal emang milik semua orang yang percaya bahwa Kristus telah lahir untuk menebus dosa-dosa manusia…. Mari kita berbagi kasih Natal dengan semua orang walaupun hanya dalam kesederhanaan…

  2. Kisahnya sgt mengharukan… Selamat Natal utk Mbak Tetty & selamat tahun baru 2010. Semoga sukses selalu.GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s