Tetty Paruntu, Sosok Pemimpin yang Melayani

Tetty Paruntu as the servant of God: to give, to save, to send

Tetty Paruntu as the servant of God: to give, to save, and to send

Tetty Paruntu dikenal sebagai pribadi yang ramah, hangat, simpatik, serta tidak pilih-pilih dalam bergaul. Artinya, Tetty memang suka bergaul dengan siapa saja tanpa memandang latar belakang seseorang. Nah, suatu kali, salah seorang sahabatnya berbagi kabar gembira kepada Tetty. Dengan riangnya si sahabat ini bertutur, “Mbak, aku lagi happy, nih…!”

“Oh ya, bagi-bagi dong happy-nya…?” pinta Tetty.

“Kemarin aku deal sama klien untuk sebuah project. Lumayan, hasilnya bisa bikin aku enggak perlu ngotot cari klien lain barang setahun hahaha….” cerita si sahabat.

“Oh ya, asyik banget… Kalau begitu aku turut senang,” komentar Tetty. “Tuhan baik, ya? Kamu diberkati terus… Jangan lupa perpuluhannya dikembalikan kepada-Nya,” pesan Tetty, yang suka menyebut dirinya sebagai the servant of God ini.

Pesan Tetty kepada sahabatnya itu sederhana belaka. Namun bagi Tetty, pesan untuk mengembalikan sebagian kecil dari rezeki kita kepada institusi gereja atau lembaga pelayanan Tuhan sangat prinsip dan doktrinal sifatnya. Mengapa? Karena bagi Tetty, ada nilai-nilai anutan yang mendalam di sana, yaitu ajakan untuk selalu melayani dan berbagi kepada sesama sebagai perwujudan nilai kasih yang diajarkan oleh Yesus Kristus.

Sebagai seorang pengusaha sukses, boleh dibilang Tetty berlimpah dengan berkat materi. Namun, sesuai dengan keyakinannya, Tetty tidak semata membawa kembali berkat finansialnya itu hanya untuk terus membesarkan perusahaan-perusahaan yang dipimpinnya. Tetty membawa sebagian dari berkatnya itu untuk membantu kegiatan-kegiatan pelayanan sosial dan keagamaan, baik yang dikelola oleh Eugenia Foundation maupun Eugenia Ministry.

Dalam kehidupan sehari-hari, Tetty dan keluarganya juga dikenal sebagai orang-orang yang dermawan serta suka membantu sesama. Kesediaan Tetty dan keluarganya untuk membantu sesama yang kekurangan sudah diketahui oleh banyak warga Minsel. Lihatlah dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, atau setiap kegiatan yang melibatkan banyak warga Minsel, selalu saja di sana ada aktivitas untuk berbagi berkat. Tak heran bila citra kedermawanan Tetty dan keluarganya begitu melekat di hati warga Minsel.

“Berkat yang saya terima saya kembalikan untuk kemuliaan nama Tuhan,” tegas Tetty. “Sebab, misi yang Tuhan berikan kepada saya adalah to give (memberi), to save (menyelamatkan), dan to send (mengutus). Doakan saya selalu agar tetap ada dalam pelayanan dan misi ini,” kata Tetty.

“Ibu Tetty adalah sosok pemimpin yang melayani,” simpul salah seorang anggota Tim Sukses Tetty Paruntu. Dan memang benar, sosok pemimpin ideal seperti inilah yang sesungguhnya dibutuhkan oleh warga Minsel saat ini. Semoga saja doa warga Minsel untuk mendapatkan sosok pemimpin yang melayani segera dikabulkan Tuhan. Amin![]

2 responses to “Tetty Paruntu, Sosok Pemimpin yang Melayani

  1. “To give, to save and to send”

    Terima kasih Bu Tetty sudah mengingatkan apa tujuan hidup semua org yg sudah menerima keselamatan dari Tuhan Yesus. Maju terus Bu Tetty, anda sosok pemimpin yang dibutuhkan rakyat Minsel. Smg sukses & Tuhan memberkati…

  2. Berbagi Kasih di Matani
    Manado Post, Thursday, 11 February 2010 10:05

    Diakonia

    KESIBUKANNYA maju dalam pencalonan Bupati Minahasa Selatan, tak membuat Christiani Eugenia Paruntu melupakan tugas pelayanan. Ketua Eugenia Ministry bersama-sama dengan Yayasa E’leos pimpinan Evanggelis (Ev) Ricko JWB Giroth melakukan siraman rohani kesejumlah gereja, termasuk jemaat GMIM Matani Tumpaan pada ibadah minggu (Minggu, 7/2) lalu. Tetty Paruntu tidak saja menyampaikan kesaksian hidup. Bersama Yayasan E’leos memberikan bantuan sembako, seragam majelis, kolintang dan sumbangan untuk pembangunan gedung gereja.

    Ev Ricko Giroth dalam khotbahnya mengingatkan tentang kasih. Apalagi pada ibadah itu dilaksanakan pelantikan dan peneguhan pelayan khusus. Menurutnya kasih adalah hokum Tuhan sambil mengutip bacaan Alkitab di Kitab I Yohanes 4: 7 , Yohanes 13:34. Serta contoh tindakan Kasih melalui perumpaan orang Samaria (Lukas 10:25-37).

    Dia juga mengingatkan kasih adalah hukum, sambil mengutip Matius 22:39. ‘’Contohnya penghakiman terakhir seperti dalam Kitab Matius 25:31-46, dimana domba masuk sorga. Karena itu sebagai jemaat dan pelayan harus melakukan perintah dan hukum kasih dengan memiliki hati seorang Samaria yang penuh belas kasihan, rendah hati dan membayar harga,‘’ urainya.(tas)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s